Pekan ini kehebohan datang dari perseteruan antara Taylor Swift dengan manajer kenamaan, Scooter Braun, yang membeli label lama Taylor, Big Machine, serta petinggi label tersebut, Scott Borchetta. Permasalahan utama adalah Taylor kehilangan hak atas rekaman master untuk 6 buah album pertamanya yang memang berada di bawah label tersebut.

Lantas menjadi pertanyaan, utamanya bagi yang awam, mengapa rekaman master ini penting sekali untuk dimiliki oleh Taylor? Yang pasti karena jika tidak berada di tangannya, maka Taylor tidak memiliki kendali untuk katalog musiknya sendiri yang tentunya sangat berharga, bukan hanya secara material namun juga immaterial.

Sebuah master adalah rekaman sound orisinal dari sebuah musik – berbeda dengan komposisinya – dan entitas atau orang yang memiliki hak kuasa atas master tersebut adalah yang berhak menggunakan rekamannya. Pemilik master memiliki hak untuk memberi izin lisensi kepada pihak ketiga yang akan menggunakannya dalam berbagai keperluan, seperti streaming, vinyl, atau digunakan dalam film, televisi, komersial atau pertunjukkan publik.

Jadi, bayangkan jika seorang musisi, seperti Taylor misalnya, tidak memiliki hak untuk musiknya sendiri, karena berarti ia harus meminta izin setiap ingin menggunakan karyanya sendiri. Ia tidak memiliki kontrol penuh untuk bagaimana dan di mana rekaman master-nya digunakan. Sejauh ini pihak label biasanya memegang kontrol untuk rekaman master mereka, yang tentunya berkaitan erat dengan eksistensi mereka sebagai sebuah perusahaan bisnis, sehingga dalam sepanjang sejarah musik kontemporer, sungguh sulit bagi seorang artis untuk memiliki rekaman master mereka sendiri.